Perlindungan Bagi Ibu Menyusui Awan Ukaya

Perlindungan Bagi Ibu Menyusui

Pemberian air susu ibu adalah proses yang alamiah, karena menyusui merupakan lanjutan fisiologis dari siklus reproduksi seorang ibu. Secara alami, bayi baru lahir langsung tahu bagaimana menemukan puting payudara ibunya dan bagaimana mengisapnya. Sebaliknya, si ibu tidak selalu tahu bagaimana cara menyusui bayinya dengan baik. Banyak ibu yang mudah menyusui bayinya, tetapi ada juga yang mendapatkan berbagai hambatan pada waktu menyusui bayinya. Bagi ibu bekerja, proses menyusui ini biasanya terhambat ketika ia mulai kembali bekerja di kantor.

Bukan saja kerepotan dalam mengatur jadwal pemberian ASI yang akan menghadangnya, tetapi tidak jarang si ibu juga harus menghadapi berbagai “kebijaksanaan” Serta lingkungan kerja yang masih belum “ramah” dengan ibu yang masih menyusui bayinya. Misalnya saja, tidak diberikannya kesempatan si ibu untuk memeras air susunya pada jam kerja.

Padahal, undang-undang No.1 Tahun 1951 menyatakan bahwa ibu hamil berhak untuk mendapatkan cuti 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Selain itu, seorang ibu mengyusui yang bekerja juga berhak mendapatkan kesempatan menyusui pada waktu kerja selama 2×30 menit ( diluar waktu makan ). Dengan adanya undang-undang tersebut, bila si ibu ingin mengyusui bayinya secara eksklusif selama 4 bulan, berarti ketika mulai bekerja ia harus mengumpulkan cukup ASI untuk ditinggalkan di rumah, atau harus membawa bayinya ke tempat kerja agar pada jam-jam tertentu dapat disusui. Atau, ibu bisa memeras air susunya, menyimpan dan kemudian membawanya pulang untuk diberikan pada bayinya. Undang-undang yang sudah ada sejak lama ini ternyata belum terealisasi dengan baik. Entah di mana salahnya.

Dari data mengenai konvensi status perlindungan ibu bekerja di berbagai negara yang dusah diratifikasi oleh 118 negara termasuk Indonesia, kolom mengenai hak ibu pekerja untuk menyusui bayinya untuk Indonesia ternyata dikosongkan. Pernyataan ini sama dengan di singapura, berbagai negara tetangga yang sudah cukup maju. Berbeda dengan Thailand dan Malaysia yang memberikan jawaban “Ya” untuk kesempatan menyusui atau memeras ASI pada jam kerja. Data ini tercatat, karena mungkin para pria dan wanita di kedua negara jiran terakhir itu sudah kenal dan sadar akan hak ibu bekerja untuk menyusui bayinya. Sementara, bagi yang belum mengenali haknya, maka hak menyusui memang sulit dipertahankan.

Demikian Sobat awanukaya.com mengenai Artikel berjudul “Perlindungan Bagi Ibu Menyusui” semoga bermanfaaat ( Ifan21 )