Mengajari EQ pada anak Awan Ukaya

Mengajari EQ pada anak

Pengalaman masa kanak-kanak dapat mempengaruhi perkembangan otak. Jika orang tua mau serius meningkatkan kecerdasan emosi anak, pengembangannya bisa dicapai seoptimal mungkin. Jika sejak usia dini anak-anak mendapat latihan-latihan emosi yang tepat, maka tentu kecerdasan emosinya akan meningkat. Sebaliknya, jika ia kurang mendapat latihan-latihan emosi yang tepat, maka perkembangan kecerdasan emosinyapun akan terlambat.

Orang tua biasanya memberi perhatian yang sangat besar pada perkembangan fisik dan kemampuan bicara dan motorik anak. Namun, kurang memberi perhatian pada tahap-tahap perkembangan kecerdasan emosi si kecil. Padahal, setiap aspek kecerdasan emosi memiliki waktu-waktu perkembangannya sendiri, dan walaupun hal ini lebih bervariasi daripada perkembangan fisik ataupun kemampuan lainnya, tapi bisa diperkirakan.

Dalam membantu perkembangan kecerdasan emosional anak, orang tua juga perlu berhati-hati. Para ahli, menyatakan bahwa seperti juga kecerdasan kognisi, kecerdasan emosi merupakan kondisi yang netral secara moral. Jadi, hendaknya kita selalu menggunakan ‘kompas moral’ dalam membimbing si kecil.

Mengapa harus mengajari kecerdasan emosional?

Banyak ahli percaya bahwa emosi manusia telah berevolusi terutama sebagai mekanisme bertahan. Rasa takut melindungi kita dari kemungkinan celaka, dan membimbing kita untuk menghindari bahaya. Kemarahan membantu mengatasi rintangan untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan. Kita menemukan kegembiraan dan kebahagiaan ketika ditemani orang lain. Dan begitu banyak lagi.

Tapi kehidupan modern telah membawa kita pada tantangan-tantangan emosi yang tidak bisa diantisipasi secara alamiah. Misalnya, betapa mudahnya kita terprovokasi oleh kemacetan jalan, tontonan televisi atau ketika bermain video games.