Bahaya Asap rokok kepada anak Awan Ukaya

Bahaya Asap rokok kepada anak

Sebuah riset menunjukkan merokok tidak hanya buruk buat perokok tetapi juga buat lingkungan. Terutama pada anak-anak perokok yang secara tidak langsung juga menghirup asap rokok orang tuanya.

Riset dilakukan di Eropa dan menemukan bahwa anak-anak yang orang tuanya perokok mempunyai risiko terkena penyakit kanker paru-paru lebih besar tinimbang anak-anak yang orang tuanya bukan perokok. Berbagai penyakit lain juga akan berisiko muncul pada anak di masa pertumbuhannya dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya bukan perokok. Laporan riset terbit pada 28 Januari di sebuah jurnal online The British Medical Journal.

Riset sebelumnya memang telah menunjukkan adanya risiko kecil bagi perokok dan lingkungannya. Namun, riset kali ini lain, “salah satu dan beberapa prospek riset ini memberi informasi tentang munculnya berbagai penyakit secara kolektif,” kata periset Dr Paolo Vineis, profesor epidemi lingkungan di Imperial College London.

Riset melibatkan responden dalam jumlah besar. Lebih dari 123 ribu di 10 negara Eropa. Mereka bukan perokok, tetapi hidup di lingkungan perokok. Sebut saja mereka sebagai perokok pasif. Riset dilakukan selama tujuh tahun. Selama tujuh tahun riset itu, 97 orang didiagnosa mengidap kanker paru-paru, 20 orang didiagnosa menderita kanker berhubungan dengan sistem pernapasan, dan 14 orang lainnya dinyatakan meninggal karena menderita gangguan paru-paru kronis atau disebut sebagai emphysema.

Munculnya risiko terkena kanker paru-paru sangat kentara pada anak-anak yang orang tuanya merokok. Dr Paolo Vineis mengatakan dari mereka yang tidak merokok tetapi sering berada di lingkungan penuh asap rokok memang menunjukkan tingkat risiko yang lebih kecil terkena kanker paru-paru.

Riset juga menemukan kesimpulan bahwa risiko terkena berbagai penyakit berhubungan dengan paru-paru. Anak-anak yang hidup di lingkungan perokok pasif tetap mempunyai risiko sebesar 30% lebih mengidap berbagai penyakit sehubungan dengan paru-paru. Namun, diperkirakan secara konsisten risiko ditemukan pada perokok lebih besar daripada yang bukan perokok.

sumber: The British Medical Journal