Mendidik anak agar cerdas Awan Ukaya

Mendidik anak agar cerdas

Seringkali kita sebagai orang tua, menuntut anak agar dapat menjadi salah satu siswa / siswi yang berprestasi di kelasnya / dalam bidang tertentu, sehingga ia dapat diterima di SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi yang memiliki standarisasi pendidikan yang bergengsi. Karena entah sejak kapan telah muncul persepsi “sukses di sekolah merupakan kunci sukses di masa depan”.

Namun persepsi tersebut tidaklah seakurat yang telah tertanam di benak para orang tua sekarang ini. Banyak sekali orang-orang berhasil (seperti penemu, dan orang terkenal lainnya), yang tidak berprestasi di masa sekolahnya dahulu. Jadi, prestasi akademik dan IQ seseorang tidak dapat menjamin seseorang untuk sukses di masa depan sepenuhnya.

Yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mengembangkan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence) seseorang, bukan hanya sekedar prestasi akademik mereka. Dengan demikian, peluang anak untuk meraih sukses di kemudian hari akan menjadi sangat besar.

Seseorang akan menjadi benar-benar cerdas jika ia mendapat nilai yang sama tinggi di setiap kecerdasan yang telah dijabarkan di atas. Namun hal tersebut sangat jarang terjadi. Umumnya seseorang yang sukses memiliki gabungan antara empat atau lima kecerdasan yang menonjol. Contohnya saja, Albert Einstein yang terkenal jenius dalam sains, ternyata juga ahli dalam matematika, dan bermain biola. Hal yang serupa terjadi juga pada Leonardo Da Vinci, yang memiliki kecerdasan dalam olah tubuh, seni, arsitektur, matematika, dan fisika.

Kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh faktor keturunan, keadaan lingkungan, dan peran serta orang tua dalam menemukan, serta mengembangkan sebanyak mungkin kemampuan yang dimiliki seorang anak.