Gizi anak usia 6 – 24 bulan Awan Ukaya

Gizi anak usia 6 – 24 bulan

Usia 6 – 9 bulan : Masa Pengenalan Makanan Padat

Pada usia 6-9 bulan, gigi pertama si Kecil mulai tumbuh. Dia mulai belajar menggigit dan sudah bisa menggunakan gusi untuk mengunyah. Antara 6-7 bulan, bayi siap dikenalkan pada makanan padat. Jangan abaikan kesempatan ini, bila Anda kehilangan momen penting ini, akan sulit bagi bayi menerima jenis-jenis makanan lain di kemudian hari. Pada masa ini kebutuhan gizi bayi dalam sehari adalah: empat kali menyusu atau tiga gelas susu lanjutan (720 ml), dua kali makan bubur susu (40-50 gram bubuk), sekali makan bubur beras cincang ayam atau bubur kacang ijo, dan dua kali selingan jus buah (50-100 ml).

Usia 9 – 12 bulan

Usia 9 – 12 bulan, bayi dapat menggigit sendiri makanan dengan menggunakan kelima jarinya, menggigit makanan seukuran mulutnya dan telah mahir mengunyah walaupun belum sesempurna orang dewasa. Dia juga mulai bisa memegang cangkir dengan kedua tangannya. Saat ini bayi juga senang memegang sendoknya sendiri saat makan, walaupun sering gagal menyuapkan makanan ke mulutnya.

Bayi seusia ini sudah mampu mengekspresikan lapar, dengan mengoceh memakai bahasanya. Kebutuhan gizinya dipenuhi melalui dua kali makan bubur susu (40 – 50 gram bubuk), sekali makan sup kacang polong atau bubur tepung beras merah dengan tahu, dan dua kali selingan jus buah (50 – 100 ml), ditambah dengan tiga gelas susu lanjutan (720 ml) atau ASI sesuka bayi. Pola makan demikian akan bertahan, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi sampai mencapai usia 3 tahun.

Usia 12 – 19 bulan

Walaupun makan masih berceceran, dia berkeras menghabiskan makanan tanpa bantuan. Keterampilannya mengunyah sudah baik, walaupun masih belum sesempurna orang dewasa. Bayi sudah dapat mengontrol gerakan minum, ia dapat melakukan lima sampai enam kali teguk sekali minum tanpa tumpah.

Usia 19 – 24 bulan

Bayi seusia ini sangat menyukai hal-hal yang berbau “upacara”. Misalnya, penggunaan kain tadah liur, memakai cangkir dan piring yang sama tiap kali makan, atau kehadiran orang tua dan saudara saat makan bersama. Di usianya yang kedua, dia sudah dapat menggenggam sendok seperti orang dewasa, mengarahkan sendok ke mulut dengan benar, begitu juga dengan gerakan bolak-balik mengambil maka