Bahasa ibu adalah bahasa anak Awan Ukaya

Bahasa ibu adalah bahasa anak

Ibu dan anak mempunyai hubungan yang sangat erat bahkan sejak benih ibu dan ayah menyatu dan tumbuh di dalam kandungan. Hubungan ini begitu erat dan dekat. Bayangkan, sembilan bulan lebih anak berada dalam rahim ibunya. Bila hubungan tersebut dibina dengan baik dan penuh kasih sayang, umumnya ibu tidak akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan bayinya kelak. Kesamaan bahasa telah dibentuk dan bahasa tersebut dapat dimengerti walaupun bukan dalam bentuk kata-kata.

Bahasa bayi hanyalah satu, yakni menangis. Bila lapar ia menangis, bila haus ia menangis, bila sakit ia pun menangis. Lalu bagaimana kita bisa mengerti apa yang ia mau? Di sini tidak ada lagi yang lebih bisa menangkap kemauan si kecil kecuali ibunya. Bagaimana dengan Ayah? Ia pun bisa mengerti kemauan anaknya bila hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang telah saling terjalin. Dan jalinan ini pun sesungguhnya dapat dibuat sejak si buah hati masih dalam kandungan.

Karena itu, jangan remehkan waktu yang terbentang selama bayi berada dalam kandungan. Ajaklah ia mengobrol, ajak ia mendengar musik, rasakan tendangan kaki mungilnya pada perut Anda dan balas dengan tepukan lembut. Nikmati rasa kebersamaan yang muncul karena itulah sebagian cara membina hubungan penuh kasih sayang.

Bila bahasa kasih sayang sudah terbentuk, Anda tidak perlu mengkhawatirkan bahasa tangis yang baru dimiliki si buah hati. Walaupun pada awalnya sedikit bingung, dalam waktu cepat Anda akan mengerti apa yang diinginkan si buah hati tercinta. Dengan mengerti apa yang ia inginkan, Anda bisa memenuhi kebutuhannya. Yang lebih penting lagi, secara psikologis si buah hati akan merasa aman dan nyaman.

Jalinan ini akan semakin kuat saat si anak tumbuh besar dalam dekapan kasih sayang orang tua. Perlakukan ia sewajarnya, jangan berlebihan. Berikan contoh yang baik dan bukan sekedar perintah. Bahasa di luar kata-kata seringkali jauh lebih efektif dari pada bahasa kata-kata.